Batu Bacan dan Sejarah Pulau Bacan


Batu Bacan dan Sejarah Pulau Bacan
Pulau Bacan adalah sebuah pulau di kabupaten Halmahera Selatan, provinsi Maluku Utara. Dalam beberapa tahun terakhir nama Bacan menjadi salah satu top hit list di Indonesia yang seringkali diasosiasikan dengan Batu Bacan (Bacan Gem Stone).
Batu Bacan merupakan batu permata dengan karakteristik unik yaitu warna yang berubah, semakin lama Batu Bacan berproses menjadi lebih jernih (kristal). Oleh sebab itu Batu Bacan sering disebut juga living stone.


Batu Bacan
Batu Bacan

 

Bacan Island
Pulau Bacan


Sejarah
Bacan adalah satu dari empat kesultanan di Maluku Utara (Kie Raha), selain Ternate, Tidore dan Jailolo.

Pada tahun 1503, armada perdagangan Portugis pertama mendarat dan mendirikan pos perdagangan di Bacan, yang pada saat itu dibawah kendali Kesultanan Ternate. 
Kapten Antonio de Miranda Azevedo, memerintahkan 7 orang anak buahnya untuk membeli cengkeh di Pulau Bacan, namun arogansi mereka dan perlakuan mereka terhadap kaum perempuan di Pulau Bacan menyebabkan mereka terbunuh, Portugis mengirimkan armadanya untuk membalas dendam namun gagal.

Di tahun 1557, Pastor Antonio Vaz membaptiskan Sultan Bacan dan beberapa anggota pengadilan masuk ke dalam agama Katolik. Sultan Bacan kemudian menikahi keluarga Sultan Ternate, Hairun, yang juga memeluk Katolik. Kesultanan Ternate menyerang Kesultanan Bacan di tahun 1578 dan Sultan Bacan kemudian kembali memeluk Islam.

Komunitas Nasrani Bacan & Ternate bertahan dan semenjak itu bergabung dengan Komunitas Nasrani dari Tobelo dan Ambon. Sebuah Gereja Katolik Roma dibangun oleh orang Belanda. Pada pertengahan abad 19, seorang Inggris, Alfred Russel Walace menamai komunitas nasrani sebagai "Orang Sirani" dan dianggap sebagai keturunan Portugis.

Sebagai akibat invasi Kesultanan Ternate di tahun 1578, Bacan menjadi bagian dari Kesultanan Ternate. Benteng Portugis dibangun di tahun 1606.  Saat Belanda mulai menguasai di abad 18, Belanda memperkuat pasukannya di benteng Bernevald.

Ternate dan Bacan adalah satu satunya tempat di Maluku Utara yang mempunyai kurikulum sekolah berdasarkan kurikulum Belanda dan petingginya sebagian besar memeluk agama Protestan. Mayoritas pemeluk Katolik berpindah memeluk Protestan pada saat pendudukan Belanda.

(source: wikipedia- Bacan Islands)


Peninggalan peninggalan bersejarah bacan masih terpelihara, salah satunya masjid  Kesultanan Bacan. Masjid ini konon dibangun tahun 1901 dan dirancang oleh arsitek jerman, Hoennig von Hendrik. Masjid ini mempunyai 17 pintu masuk. Pada jaman dahulu masjied ini tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah, namun juga digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan. Sultan dan para ketua adat biasa menggelar pertemuan di teras masjid untuk membahas masalah kenegaraan.
Sejak abad 13, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan mencakup hingga Mindanao dan Papua. Bacan dikenal  pula sebagai sentra penghasil rempah terutama pala. Rempah ini pula yang mengundang bangsa asing di abad ke 16 melalui perairan Halmahera. Jejak perebutan komoditas dunia tersebua masih dapat dilihat melalui reruntuhan benteng Bernevald hingga reruntuhan di kota Labuha. Benteng Bernevald dibangun di abad 15 oleh bangsa Portugis.
 
(Source: Youtube- Wisata Sejarah Bacan).

Labuha

Labuha adalah ibu kota Halmahera Selatan sekaligus merupakan kota pelabuhan.
Kota Labuha  juga mempunyai pelabuhan udara yang dinamakan Airport Oesman Sadik.

Salah satu sudut pemandangan Labuha


Senja di Labuha (by Ahmad Irfan-Panoramio)






Batu Bacan.
Batu Bacan sebenarnya bukan berasal dari Pulau Bacan, melainkan dari Pulau Kasiruta yang terletak sebelah tenggara dari Pulau Bacan. Jenis-jenis Batu Bacan yang terkenal diantaranya adalah Bacan Doko dan Bacan Palamea. Doko dan Palamea adalah dua nama desa yang terletak di Pulau Kasiruta.
Bacan Gemstone

Selain Batu Bacan, ada beberapa situs yang menarik di pulau Bacan :
  • Bandar udara Oesman Sadik
  • Keraton Sultan Bacan
  • Benteng Bernevald (dibangun Portugis untuk menahan serangan Spanyol)
  • Pantai Pawete
  • Cagar alam
  • Gunung Batusibela (2111 m dpl)
  • Masjid Raya Bacan (berusia lebih dari satu abad)
  • Makam beberapa sultan dan para ulama dari negeri Jiran
Batu Bacan,  Pulau Bacan, Bacan Island.
 

Auto Backlink

2 komentar: